November 29, 2020

KOBARAN SANG ELAN


Terlahir sebagai seorang yang mengidap penyakit lemah tulang di kaki kirinya, menyebabkan habib tumbuh tak normal layaknya anak seusia sirinya. Meskipun demikian, tak mematahkan semangat jiwa lelaki itu untuk tetap menjalani dan meraih mimpi-mimpi yang berpusar di mercu otaknya. Keadaan kurang mampu sang keluarga membuat penyembuhan penyakit habib hanya secara tradisional. Namun, berkat keikhlasan, ihtiar,  semangat, dan doa yang ia penjatkan sekeluarga, tak lama kemudian penyakitnya berangsur sembuh. meski diumurnya yang kurang dari lima tahun sang ibu menderita penyakit mental (gangguan jiwa). 

Dibawah asuhan sang ayah, habib tumbuh lincah dan penuh kemandirian. Selain itu, jiwa kerja keras dalam diri habib sudah mulai terlihat semenjak sekolah dasar. ia sudah meniti karir dalam bekerjanya di sebuah buruh penggilingan padi sekitar daerah tempat tinggalnya untuk membantu membersihkan bekas-bekas dedak yang berceceran. Karena tulang mungilnya tak cukup kuat untuk membantu angkat karungan beras ke mobil angkutan untuk didistribusikan. 

Dari hasil buruh tersebut, ia bisa sedikit mengisi tabungan untuk biaya sekolahnya. Ia sadar, orangtuanya tak cukup mampu untuk membiayai hidupnya, terlebih ia masih mempunyai seorang adik kandung perempuan yang duduk di kelas satu sekolah dasar. Selain itu, ayahnya telah lama berpisah dengan ibunya semenjak ibunya sudah mulai mengidap penyakit mental yang tak sanggup biaya untuk membawanya untuk berobat. Ayahnya-pun menikah lagi dengan janda 3 anak. Sehingga beban sang ayah dirasa cukup banyak dalam benak habib. Dari situlah gigih semangat dalam mencari pundi-pundi uang semakin meningkat.

Setelah menginjak sekolah menengah pertama (SMP) ia mulai aktif dan memberanikan diri untuk tampil sebagai MC di acara akhir tahunan senior di sekolahnya. Semenjak itu, pengurus sekolah selalu menunjuk dia untuk menjadi MC di tiap acara  akhir tahunan hingga ia lulus. Tak jarang ia mendapat beasiswa karena gelar bintang pelajar di sekolahnya yang ia sandang. Saat dirasa kesibukannya mulai meningkat, ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaan lamanya sebagai buruh di penggilingan padi.

Suasana duka menyelimuti habib ketika mulai menginjak sekolah menengah atas (SMA), Sang ibu meninggal sebelum menyaksikan kesuksesan habib. Kesedihan tak menjadi penghalang langkah lincah habib, ia mulai mencoba terjun di dunia presenter radio di kawasan tak jauh dari tempat tinggalnya. Selain itu, ia kerap disuruh para guru yang mengajar di tempat ia mengais ilmu tersebut untuk membantu mengetikkan soal-soal ujian atau yang lainnya. Uang pesangon-pun ia kumpulkan sedikit demi sedikit. Dari sini ia bisa membiayai sekolahnya dan sedikit membantu biaya adiknya.

Setelah lulus SMA, ia masih sering diundang untuk menjadi MC di acara-acara di kawasan kampungnya maupun tetangga kampungnya. Memang, kelincahan komunikasi dengan irama suara yang khas membuat para pendengar tersihir oleh paduan kata yang keluar dari bibirnya. Ia mulai berfikir, membuka lembar demi lembar cita-cita yang pernah ia sematkan di catatan buku hariannya sepuluh tahun silam. “Dosen”, kata-kata itu mulai terbayang-bayang kembali di otaknya setelah sekian lama mengendap tertumpuk pikiran-pikiran kesibukannya.

Benak hati berucap “Mungkinkan aku menjadi dosen, kalau pendidikan sekolahku berakhir hanya di tingkat SMA?. Mondar-mandir pikirannya di otak. Tapi, darimanakah aku harus meminjam uang untuk biaya masuk kuliahku?”

Selang beberapa waktu, ia memutuskan untuk mencari kerja terlebih dahulu sebelum ia melanjutkan pengembaraan intelektualnya. Menjadi presenter radio menjadi pilihan sementara dalam mengkantongi dan mengisi tabungan masa depannya. Serta kerja sambilan menjadi guru les bahasa inggris di tempat sekolahnya dulu.

Setahun ia mengisi waktu luang untuk mengais recehan demi recehan yang ia kumpulkan dari tenaga yang ia bisa lakukan, masih belum mencukupi untuk biaya pendaftaran langkah pndidikannya. Terlebih perguruan tinggi swasta di kawasan kelahirannya cukup mahal untuk pengeluaran biayanya. Sehingga, iah memilih perguruan tinggi yang cukup murah saat itu, dipilihlah perguruan tinggi negeri dikawasan kota jauh dari rumahnya. Meskipun tetap saja kantong tabungannya tak mencukupi juga untuk mendaftar kuliah tahun ini.  Tak sedikitpun mematahkan semangatnya.  Akhirnya langkah kaki habib tetap melaju dan berangkat ke perguruan tinggi tersebut. Ia tak pikir panjang, ia mau melakukan apapun disana nanti demi untuk bisa belajar dan melanjutkan langkah intelektualnya. Setibanya disana, ia dikejutkan dengan gedung-gedung nan megah, benak hati berucap“inikah perguruan tinggi tempat aku mengais ilmu?. Inikah tuhan?.” Mulutnya tak berhenti berucap Subhanallah, akhirnya perjumpaan habib dengan security (penjaga keamanan) perguruan tinggi tersebut, menjadi hikmah dalam diri habib yang kala itu membutuhkan uang tambahan untuk segera bisa mendaftar di universitas tersebut.

Akhirnya, ia memutuskan untuk bekerja diwarnet seperti yang disarankan security. Namun, ia meminta bayaran terlebih dahulu untuk menambah tabungan biaya kuliah yang kurang tersebut. Dan masjid-pun ia pilih sebagai tempat tinggal sementara melepas lelah dan beradu desah hati pada sang Illahi. 

Tiga setengah tahun sudah ia menyandang sebagai mahasiswa jurusan sastra inggris. Dan kini tiba kelulusan habib dengan menyandang sarjana sastra inggris. Penuh haru sang ayah kala itu tak didampingi ibu tirinya karena sedang sakit. Tidak sampai disitu ia mendapat beasiswa S2 di universitas ternama di Jakarta. 

Dan dia direkrut menjadi dosen di universitas tersebut hingga akhirnya Ia menikah dengan dosen muda di universitas yang sama.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar